Jumat, 05 April 2013

Sampah Organik, Barang Tidak Berguna Menjadi Berguna Bagi Pertanian

     Sampah, ya, kita tahu sampah itu adalah sesuatu yang sangat tidak berguna bagi kehidupan manusia, selain menimbulkan pemandangan yang tidak menyenangkan, sampah dapat menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung tiap orang yang melaluinya. Hal tersebut menjadi suatu masalah klasik yang dialami tiap kota di Indonesia, bahkan di dunia. Rata-rata, tiap orang menghasilkan sampah 1 sampai 2 kg dan seiring berjalan waktu akan terus bertambah seirama dengan meningkatnya kesejahteraan dan gaya hidup masyarakat. Di ibukota, rata-rata penduduknya menghasilkan sampah sebesar 2,9 liter/orang/hari, untuk kota besar sebesar 2,2 liter/orang/hari dan untuk kota kecil menghasilkan 2 liter/orang/hari.
     Umumnya, tiap orang hampir 50% sampah yang dibuang merupakan sampah organik atau limbah hasil pertanian sisanya berupa sampah non organik seperti plastik, pecahan kaca, bahan yang terbuat dari metal, dan bahan-bahan kimia (seperti air sisa cucian). Sesuatu yang dapat mencemari lingkungan dan keindahan suatu tata kota.
     Masyarakat mempunyai cara tersendiri dalam mengelola sampah yang mereka hasilkan, dalam perhitungan BPS tahun 2005, sebesar 50% sampah yang dihasilkan masyarakat diangkut oleh dinas pengelolaan sampah kota, sebesar 5,5% dibakar, 1% dibuang ke sungai dan 43,5% cara lainnya (seperti ditimbun, dll.). Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) tidak akan mungkin menampung secara keseluruhan sampah yang dihasilkan tiap orang. Peran kepedulian masyarakat sangat penting diperlukan untuk mengurangi volume sampah yang makin hari makin membludak.
     Hmmm.... Daripada dibuang, lebih baik dikelola bukan? Ya, benar sekali! Sampah organik dapat kita kelola menjadi sesuatu yang berguna, yaitu dengan mengelolanya menjadi pupuk organik. Hah? Pupuk organik? Apakah bisa? Sangat bisa, yang kita perlukan hanyalah sampah berbahan organik dan bioaktivator (semacam bakteri komposter). Barang-barang ini sangat mudah didapat dimanapun, bioaktivator dapat diperoleh dari toko-toko pertanian yang terdekat. Sangat mudah bukan memperolehnya?

Cara Pembuatan Mikroorganisme (Bakteri Komposter)

     Mikroorganisme yang digunakan sebgai bakteri komposter disini adalah jenis Effective Microorganism (EM). Banyak ahli yang berpendapat bahwa EM adalah bukan digolongkan ke dalam pupuk, EM merupakan bahan yang membantu mempercepat proses pembuatan pupuk organik dan dapat meningkatkan kualitasnya. Selain itu EM dapat membantu memperbaiki struktur dan teksur tanah. Mikroorganisme yang terdapat di dalamnya secara genetika bersifat asli, bukan rekayasa. Umumnya EM dapat dibuat sendiri. Adapun cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
Bahan
1. 2 liter susu sapi atau susu kambing murni
2. 1/2 kg terasi
3. 1 kg gula
4. 1 kg bekatul
5. 1 buah nanas
6. 10 liter air bersih
7. Usus ayam atau kambing secukupnya
Alat
1. Panci
2. Kompor
3. Blender atau parutan
Cara Pembuatan
1. Haluskan buah nanas dengan blender atau parutan. Setelah itu campur terasi, bekatul, gula pasir dan air di dalam panci. Masak sampai mendidih, lalu dinginkan.
2. Tambahkan susu, usus ayam atau kambing. Lalu aduk hingga merata.
3. Tutup rapat campuran itu lalu diamkan selama 12 jam atau 1 hari sampai adonan itu menjadi kental.
4. Ciri-ciri itu keberhasilan pembuatan EM apabila muncul gelembung-gelembung di permukaan adonan.

     Lantas, bagaimana cara membuatnya? Mudah sekali lho. Caranya singkatnya begini:
1. Siapkan tong plastik yang sudah dibuat keran pada bagian bawahnya (jangan terlalu bawah banget ya).
2. Sampah yang sudah dipilah dicacah sampai kecil-kecil (sampah organiknya masbro, yang lain "out").
3. Campur bioaktivator kedalam sprayer dengan perbandingan 1 liter air dicampur 2 tutup bioaktivator (airnya jangan air PAM ya, nanti bakterinya jadi "Rest In Peace". hehehehehe. Kalau mau air PAM, airnya diendapkan dulu supaya kaporitnya menguap).
4. Sampah yang sudah dicacah dimasukkan ke dalam tong plastik dan dicampur biokativator sambil diaduk-aduk hingga merata.
5. Tutup tong tersebut dan tunggu kira-kira 1-2 minggu supaya sampahnya "disulap" oleh bakteri tersebut.
6. Setelah penantian yang panjang selama 1-2 minggu, dibuka kerannya dan akan dihasilkan air berwarna kecoklatan, nah itulah pupuknya.
     Lalu, apa sih keunggulan pupuk itu dengan pupuk lainnya? Pupuk itu banyak mempunyai keunggulan, ini nih keunggulannya:
1. Dapat menyehatkan lingkungan
Menyehatkan lingkungan? Memangnya dokter? Hahahaha... Ya hampir seperti itulah, tapi menyehatkannya dengan cara mengurangi volume sampah yang ada di daerah tersebut. Kalau sampahnya berkurang, lingkungan pun asri bukan?
2. Revitalisasi produktivitas tanah
Pada dasarnya, pupuk anorganik (pupuk kimia) kalau dipakai terus menerus dapat berakibat buruk pada tanah. Pupuk anorganik akan terakumulasi dalam tanah akan menyebabkan kekurangan hara. Lama kelamaan tanah itu akan menjadi keras dan tidak baik untuk tanah. Kalau penggunaan pupuk organik akan mampu memperbaiki kualitas tanah, selain itu penggunaan pupuk organik juga berperan untuk menjadi sumber makanan bagi organisme tanah.
3. Menekan biaya
Kita tahu bahwa pupuk anorganik harganya begitu mahal, pupuk urea saja harganya Rp. 3000/kg, pupuk NPK Rp. 4000/kg. sangat mahal bukan? Sedangkan kalau kita membuat pupuk organik, kita hanya modal sampah dan peralatan lainnya yang cenderung murah dan mudah diperoleh.
4. Meningkatkan kualitas produk
Dari sumber data yang diperoleh, kalau tanaman yang diberikan pupuk organik, tanaman itu sangat bagus, sebagai contoh, kalau tanaman wortel dipupuk oleh pupuk organik, tanaman itu akan tahan lama, baik untuk dikonsumsi dan rasanya pun enak, berbeda dengan pupuk anorganik yang berbahaya jika terkonsumsi.
5. Unsur hara yang dihasilkan banyak
Unsur hara kimia pada pupuk organik sangatlah banyak, berbeda dengan pupuk anorganik yang "sedikit". Sebagai contoh, pupuk NPK, unsur hara nya berupa Nitrogen, Phospor dan Kalium. Pupuk organik bisa dikatakan lengkap memiliki unsur-unsur hara baik mikro atau makro yang diperlukan tanaman.
     Bagaimana cara menggunakannya? Apakah harus dituang seluruhnya ke tanaman? Oh, tidak, cara penggunaannya sangatlah mudah, yaitu dengan perbandingan 1:5, 1 botol pupuk organik cair itu dicampur 5 botol air mineral dengan volume botol yang sama. Soal dosis, secukupnya saja, tidak ada perlakuan khusus dalam memberikannya.
     Gimana, mudah bukan cara pengelolaan nya? Selain berguna untuk tanaman atau pertanian, dapat juga berguna untuk mengurangi volume sampah organik yang ada di lingkungan masing-masing. Mohon maaf jika ada kekurangan dan kelemahan didalam blog ini. Kritik dan saran yang membangun benar-benar saya butuhkan untuk penyempurnaan tulisan saya yang tidak seberapa ini.
     Salam. ^_^

Sumber: Hadisuwito, S. 2012. Membuat Pupuk Organik Cair. PT AgroMedia Pustaka. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar